Sabtu, 18 Agustus 2018
 
Redaksi | Post date : 05 April 2018 Jam 04:40:25 Wib
 

Medan : ASOSIASI Tenaga Teknik Indonesia (ASTTI) Sumatera Utara menggelar uji kompetensi bagi ahli Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) Muda, untuk mencegah terjadinya kecelakaan akibat kerja.

Ketua DPD ASTTI Sumut, Saut B Pardede mengatakan, tujuan dari program K3 sesuai UU Nomor 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja adalah untuk mencegah terjadinya kecelakaan dan sakit akibat kerja, serta memberi perlindungan pada sumber-sumber produksi untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas.

“Berdasarkan data annual report tahun 2002 yang diterbitkan oleh Depnakertrans tentang keselamatan dan kesehatan kerja, menunjukkan bahwa sektor industri menduduki peringkat pertama yang mempunyai kasus kecelakaan tertinggi, yaitu industri tekstil 8,65 persen, industri pakaian dan bahan jadi 5,60 persen, kemudian sektor pertanian dan peternakan sebesar 13,60 persen, bangunan (konstruksi) 5,67 persen dan penebangan kayu 5,58 persen,” kata Saut saat membuka acara pelatihan, di kantor DPD ASTTI Sumut, Rabu (4/4/2018).

Saut menambahkan, berdasarkan data kecelakaan kerja mulai tahun 1995 sampai 1999 dengan jumlah kecelakaan kerja sebesar 412.625 kasus tersebut, nilai kerugian mencapai Rp340 miliar, ditambah dengan pembayaran santunan dan ganti rugi sebesar Rp329 miliar.

“Atas dasar ini wajar dilakukan prinsip-prinsip K3 di setiap perusahaan,” sebutnya.

Dikatakan Saut, ada tiga faktor penting mengapa K3 harus dilaksanakan. Pertama atas dasar kemanusiaan, undang-undang, dan ketiga, berdasarkan ekonomi, karena biaya sakit akibat kecelakaan kerja berdampak sangat besar bagi perusahaan.

Menurut HW Heinrich, penyebab kecelakaan kerja yang sering ditemui adalah perilaku yang tidak aman, kondisi lingkungan yang tidak aman, dan kombinasi dari kedua hal tersebut.

“Tugas ahli K3 harus mempunyai kemampuan untuk mencegah kecelakaan kerja, mengembangkan konsep dan kebiasaan pentingnya K3, memahami ancaman bahaya yang ada di tempat kerja dan mengunakan langkah pencegahan kecelakaan kerja,” sebutnya.

Saut mengungkapkan, K3 merupakan tanggungjawab bersama antara perusahaan dan pekerja yang diatur melalui ketentuan undang- undang, dimana setiap pelanggaran ada sanksinya.

“Oleh karenanya, K3 harus mampu menyusun suatu rencana K3 untuk setiap kegiatan agar tercipta suasana aman bagi setiap pekerja,” sebut Saut.

Saut berharap pembekalan tersebut dapat melahirkan tenaga-tenaga ahli K3 yang berkompeten. Program uji kompetensi ahli K3 Muda tersebut merupakan progran sertifikasi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) tahun anggaran 2018 yang dilaksanakan ASTTI sebagai Lembaga Sertifikasi Profesi Tenaga Teknik Indonesia (LSPTTI) yang telah mendapat lisensi dari BNSP. Para peserta yang mengikuti uji kompetensi tersebut akan mendapatkan sertifikasi dari BNSP.

Acara yang digelar selama dua hari tersebut, yakni 4-5 April 2018, dihadiri para pengurus ASTTI, antara lain Sekretaris ASTTI Sumut Fery Eldi, Wakil Ketua Indra Harahap, Bendahara Lebora Siburian, Wakil Sekretaris Wilda Devona Sitepu, dan Wakil Bendaraha Rita Ayunda. (Widya)

Dibaca 244 kali

Segala isi baik berupa teks, gambar, suara dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab konstruksisumut.com.

Semua hasil karya yang dimuat di konstruksisumut.com baik berupa teks, gambar dan suara serta segala bentuk grafis adalah menjadi hak cipta konstruksisumut.com.