Sabtu, 18 Agustus 2018
 
Redaksi | Post date : 09 Mei 2018 Jam 00:00:57 Wib
 
Jakarta - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menargetkan 1 juta tenaga kerja konstruksi tersertifikasi hingga akhir tahun ini.
 
Direktur Bina Kompetensi dan Produktivitas Konstruksi Ditjen Konstruksi Kementerian PUPR Ober Gultom mengatakan, saat ini pemerintah mengganti pendekatan untuk menyertifikasi tenaga kerja konstruksi.
 
Sertifikasi yang dilakukan pemerintah yakni tenaga kerja yang telah dilatih dan tengah bekerja di sektor konstruksi.
 
“Kalau dulu dilatih baru disertifikasi atau diuji, sekarang yang bekerja kita uji, tentu yang bekerja pasti sudah dilatih terlebih dahulu. Dulu makanya sertifikasinya lambat," katanya dikutip daribisnis.com, Selasa (8/5/2018).
 
Sementara Dirjen Bina Konstruksi Syarif Burhanuddin menjelaskan, hingga kini baru 720.000 tenaga kerja yang telah bersertifikat dari total 8,10 juta tenaga kerja konstruksi.
 
"Kalau kita lihat yang 8,10 juta itu kurang lebih 70% (tenaga kerja berpendidikan) di bawah SMA dan di atas itu 30-an persen di atas SMA," katanya.
 
Sebelumnya, Ketua Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) Nasional Ruslan Rifai memerinci pekerja yang tersertifikat di tingkat pekerja terampil, kelas I ada 346.609 pekerja, kelas II 64.633 pekerja, dan untuk kelas III 75.688 pekerja.
 
Sementara di tingkat ahli, hanya ada 95.618 ahli muda tersertifikasi, 110.966 ahli madya, dan 8.765 ahli utama.
 
Menurutnya, untuk meningkatkan jumlah tenaga kerja yang bersertifikat, memang harus terdapat kontribusi aktif dari perusahaan maupun asosiasi dalam peningkatan kapasitas tenaga kerja konstruksi nasional.*bc
Dibaca 229 kali

Segala isi baik berupa teks, gambar, suara dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab konstruksisumut.com.

Semua hasil karya yang dimuat di konstruksisumut.com baik berupa teks, gambar dan suara serta segala bentuk grafis adalah menjadi hak cipta konstruksisumut.com.