Sabtu, 18 Agustus 2018
 
Redaksi | Post date : 26 Januari 2017 Jam 05:00:09 Wib
 

Bandung - DIREKTUR Jenderal (Dirjen) Bina Marga Arie setiadi Moerwanto menyatakan kesiapannya menerapkan teknologi  Corrugated Mortarbusa Pusjatan (CMP) pada pembangunan jembatan layang (overpass) di Indonesia. 

Hal tersebut sebagai respon atas permintaan Wakil Presiden (Wapres) Republik Indonesia Jusuf Kalla saat meresmikan overpass Antapani di Bandung, Selasa (24/1/2017) siang.

Wapres menyebutkan, teknologi CMP dinilai tepat karena berhasil mempersingkat masa konstruksi jembatan layang menjadi hanya enam bulan serta mampu menghemat biaya pembangunan hingga 70 persen, dibanding teknologi konstruksi overpass konvensional.

Arie mengatakan, tahun ini setidaknya akan dibangun empat overpass CMP di wilayah Brebes, Jawa Tengah. Seluruh jembatan layang tersebut dibangun di atas jalan nasional yang mengalami perlintasan sebidang dengan rel kereta api. Dia mengharapkan keempat overpass tersebut sudah dapat fungsional atau dimanfaatkan saat mudik lebaran 2017.

Overpass tersebut akan dibangun di Kabupaten Brebes yaitu di Dermoleng dan Kretek, serta di Kabupaten Tegal yaitu di Klonengan dan Kesambi. Dia menurutkan, seluruh overpass tersebut sudah dilakukan penandatanganan kontrak pada Desember 2016, dan saat ini sudah mulai ada awal pekerjaan.

Konstruksi overpass tersebut memang lebih mahal dibanding biaya konstruksi overpass Antapani di Bandung karena kondisi pekerjaannya berbeda. Arie mencontohkan pembangunan overpass Klonengan yang biayanya diatas Rp100 miliar, hal tersebut dikarenakan overpass tersebut lebih panjang dan melewati sungai.

“Selain itu jembatannya juga lebih tinggi karena ada jalur listrik untuk kereta apinya. Di lapangan space juga tidak ada, sempit sekali. Jadi metodenya berbeda. Namun tetap bila dibandingkan teknologi yang lama, biayanya tetap lebih murah,” ungkapnya.

Sedangkan untuk tiga overpass lainnya dana pembangunannya berkisar antara Rp60 miliar. Selain itu juga teknologi CMP juga akan diterapkan di Papua khususnya untuk ruas jalan Momogu-Batas Batu.  Paket pekerjaan untuk pembangunan beberapa jembatan tersebut sudah ditandatangani dengan nilai kontrak Rp200 miliar. Untuk Papua, teknologi CMP diperuntukkan bagi jembatan yang melintasi sungai dengan lebar kurang dari 20 meter.

“CMP sesuai untuk Papua, karena ringan dibawanya dibanding membawa baja, jadi lebih murah,” imbuhnya.

Ditjen Bina Marga juga mendorong penerapan CMP untuk jalan tol dan kawasan sekitarnya. Arie mengaku sudah berbicara dengan PT Hutama Karya selaku Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) Tol Trans Sumatera agar dapat dibangun.*kpu

Dibaca 576 kali

Segala isi baik berupa teks, gambar, suara dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab konstruksisumut.com.

Semua hasil karya yang dimuat di konstruksisumut.com baik berupa teks, gambar dan suara serta segala bentuk grafis adalah menjadi hak cipta konstruksisumut.com.