oleh

Membudayakan dan Membentuk Karakter K3 di Tempat Kerja

Oleh : Rita Ayunda Siregar, ST
(Wakil Bendahara DPD ASTTI Sumatera Utara)

Filosofi dasar dari Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah melindungi keselamatan dan kesehatan kerja para pekerja dalam menjalankan pekerjaannya yang berimbas kepada kinerja perusahaan. Dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor : PER.05/MEN/1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3), pada pasal 3, dijelaskan bahwa setiap perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja sebanyak 100 orang atau lebih dan/atau mengandung potensi bahaya yang ditimbulkan oleh karakteristik proses atau bahan produksi yang dapat menyebabkan kecelakaan kerja seperti peledakan, kebakaran, pencemaran dan penyakit akibat kerja, wajib menerapkan SMK3.

Pemerintah Republik Indonesia telah menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) No.50 tahun 2012 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3). Peraturan yang ditandatangani oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 12 April tersebut merupakan aturan pelaksanan dari pasal 87 UU No. 13/2003 tentang Ketenagakerjaan. Dalam peraturan tersebut, SMK3 disebutkan merupakan bagian dari sistem manajemen perusahaan secara keseluruhan dalam rangka pengendalian resiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif. Semua pihak harus menyadari penerapan K3 merupakan investasi Sumber Daya Manusia yang menentukan kemajuan dan keberhasilan perusahaan.

Sering kali kita melihat spanduk – spanduk perusahaan mengenai slogan 5S. Suatu slogan dari program penciptaan langkah menuju budaya disiplin. Slogan 5S merupakan sebuah program dari jepang, yang memiliki kepanjangan dari Seiri (pemilihanan), Seiton (penataan), Seiso (pembersihan), Seiketsu (pemantapan dan Shitsuke (disiplin). Ini adalah merupakan langkah-langkah untuk membudayakan sikap, perilaku dan membentuk budaya disiplin di tempat kerja. Budaya disiplin adalah suatu budaya yang sangat sulit dibentuk, seperti halnya di Indonesia budaya disiplin sering kali dikampanyekan, hingga pemeritah mencanangkan gerakan disiplin nasional (GDN) pada tanggal 20 mei 1995. Namun dengan budaya kita yang sepertinya sudah mendarah daging hal ini sangat sulit.

Membentuk budaya disiplin sebenarnya tidaklah sulit jika kita melakukannya dengan kesungguhan hati, tetapi sangat sulit untuk memulainya. Dapat dimulai dari hal –hal kecil dari lingkungan keluarga ataupun masyarakat. Inti dari perilaku tersebut adalah komitmen dalam diri kita untuk merubahnya dengan membudayakan disiplin dari kita sendiri. Sasarannya adalah tingginya tingkat pemenuhan norma K3, meningkatnya jumlah perusahaan yang mendapatkan kecelakaan nihil (zero accident) dan terwujudnya masyarakat yang berprilaku K3.

Pada pelaksanaannya memang bukamlah hal yang mudah melakukan perubahan dari karakter individu. Budaya organisasi dan merubah sikap tentu memerlukan proses. Dengan adanya SMK3 adalah suatu upaya untuk sebuah perubahan dari semua pihak dari mulai dari level tertinggi sampai dengan level terendah. Dengan adanya komitmen dan konsisten bersama dari level tertinggi untuk menerapkan SMK3 di perusahaan atau proyek maka karakter K3 mudah dilaksanakan dan dapat menjadi kebiasaan yang baik.

Di era globalisasi dan pasar bebas yang telah melanda kita saat ini, kesehatan dan keselamatan kerja merupakan salah satu prasyarat yang ditetapkan dalam hubungan ekonomi perdagangan barang dan jasa antar negara yang harus dipenuhi oleh seluruh negara anggota, termasuk bangsa Indonesia. Untuk mengantisipasi hal tersebut serta mewujudkan perlindungan masyarakat pekerja Indonesia, telah ditetapkan Visi Indonesia Sehat 2010 yaitu gambaran masyarakat Indonesia di masa depan, yang penduduknya hidup di dalam lingkungan dan perilaku sehat, memperoleh pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.*

Berikan Komentar

News Feed