oleh

Triplehelix, Strategi Kementerian PUPR untuk Menangkan Persaingan Pasar Global

-SDM-156 Dibaca

Jakarta – DALAM rangka memenangkan persaingan di era pasar global, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melakukan terobosan meningkatkan daya saing bidang konstruksi melalui konsep triplehelix, yakni melakukan kerjasama untuk saling bersinergi antara perguruan tinggi, pelaku isaha dan pemerintah.

“Dalam hal ini perguruan tinggi berperan sebagai laboratorium riset, inkubator produk inovatif, jaringan pengetahuan dan teknologi, serta basis produksi SDM ahli,” kata Kepala Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah (BPIW) Kementerian PUPR, Hadi Sucahyono mewakili Menteri PUPR, Basuki Hadimulyono saat menyampaikan orasi ilmiah bertajuk “Peran Perguruan Tinggi dalam Mendukung Pembangunan Infrastruktur untuk Mencapai Peningkatan Daya Saing Ekonomi Indonesia” pada Wisuda dan Dies Natalis Universitas Pancasila ke-52 di Jakarta Convention Center (JCC), beberapa waktu lalu.

Hadi mengungkapkan, adapun untuk peran pelaku usaha adalah mengelola daya saing bersama dengan pemerintah sebagai regulatornya.

“Dalam pengembangan jasa konstruksi, perguruan tinggi diharapkan dapat membangun minat siswa didik kepada industri konstruksi, mengembangkan SDM, memperkuat kurikulum yang menunjang konstruksi, akreditasi untuk program studi, meningkatkan riset dalam bidang konstruksi, dan melakukan riset dengan pendekatan multi-disiplin terpadu,” ungkap Hadi.

Menurutnya, kesepakatan ASEAN Mutual Recognition Arrangement (MRA) on Engineering Services telah membuka kesempatan bagi insinyur yang berwarganegara ASEAN untuk berkarya lintas batas negara di lingkungan ASEAN.

“Ini merupakan peluang sekaligus tantangan. Tantangan bagi perguruan tinggi untuk menjadikan lulusannya yang berjaya, mandiri dan berdaya saing global. Bahkan, menjadi penggerak pembangunan Indonesia yang memiliki kompetensi handal,” jelas Hadi.

Kementerian PUPR, lanjut Hadi, turut membangun kualitas bangsa untuk memenangkan persaingan global melalui pembangunan infrastruktur untuk masyarakat di seluruh tanah air.

“Kemudian menempatkan infrastruktur dalam posisi prioritas kebijakan pembangunan nasional merupakan pilihan yang logis dan strategis. Pasalnya, pembangunan infrastruktur juga memberikan kontribusi pada berbagai perbaikan kondisi nasional,” terangnya.

Menurutnya, sebagai salah satu indikator yakni daya saing Indonesia dalam konteks global terus membaik, yaitu berada pada peringkat 45 dari 140 negara yang pada tahun sebelumnya berada di peringkat 47.

Dikatakan Hadi, saat ini ada beberapa tantangan yang dihadapi dalam pembangunan infrastruktur di Indonesia, antara lain Disparitas antarwilayah, terutama antara Kawasan Barat Indonesia (KBI) dan Kawasan Timur Indonesia (KTI), daya saing nasional yang masih harus terus didorong, yang salah satunya melalui peningkatan konektivitas, tingkat urbanisasi yang tinggi yaitu sebesar 53% penduduk tinggal pada kawasan perkotaan serta pemanfaatan sumber daya yang belum optimal dalam mendukung kedaulatan pangan dan energi.*kpu

Berikan Komentar

News Feed